Cyber Media
Call Warta: 2981039
Gesekan merdu biola dan cello, diiringi dentingan lembut tuts-tuts piano terdengar mengalun di SGFP malam itu. Musik klasik memang tidak hanya enak didengar, namun genre musik tersebut juga dapat menjadi terapi untuk membentuk psikologi manusia. Atas dasar itulah, untuk kesekian kalinya fakultas psikologi, Ubaya mengadakan acara dengan tema “Psikology of Music” pada 18 Januari 2011 yang lalu.
Even yang berlangsung selama kurang lebih empat jam ini di buka dengan cerita mengenai biografi salah seorang komposer musik klasik terkenal, Beethoven. Banyak karya musisi kelahiran Jerman itu yang menjadi sangat populer dan bernilai seni sangat tinggi. Sembari mengenang kisah Beethoven, lagu-lagu ciptaan pianis tersebut turut dimainkan oleh grup musik yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua yang tampil pada malam itu. Salah satu komposisi yang dimainkan adalah Moonlight Sonata yang seakan sanggup membuat penonton terpaku pada tempatnya.
“Tujuan kami mengadakan acara ini adalah agar musik klasik dapat di kenal oleh masyarakat luas, termasuk manfaatnya menjadi terapi psikologi,” ujar Ongky Adisurya selaku ketua panitia acara yang sempat ditemui oleh WU. Ongky juga menambahkan, grup musik yang menampilkan performance tidak terbatas untuk mahasiswa atau orang tua saja, namun juga anak-anak. “Agar generasi muda dapat mengembangkan potensi mereka dalam musik klasik,” jelasnya.
Dalam dunia psikologi, mendengar musik klasik memang memiliki banyak manfaat, baik itu bagi kesehatan mental dan jiwa. Hal tersebut tidak mengherankan, sebab jenis musik yang sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu itu dinilai memiliki efek yang menenangkan. Selain itu mendengarkan musik klasik sejak usia dini dapat membantu perkembangan otak terutama daya nalar dan perkembangan bahasa. (twp)